Forum Indonesia Afrika, Semangat Membangun dan Maju Bersama Kawan Lama

Selasa, 10 April 2018 - 15:42

Sumber : Kemlu RI

Pemerintah kian serius membuka peluang kerjasama ekonomi ke pasar baru dan negara-negara potensial, termasuk ke kawasan Afrika. Penyelenggaraan Forum Indonesia Afrika 2018 (IAF) di Bali selama 10 s.d. 11 April 2018 menjadi bukti komitmen tersebut. Dalam forum yang diikuti lebih dari 500 partisipan dari 53 Negara di Afrika ini, dilakukan penandatanganan Kesepakatan Bisnis senilai 586.56 juta Dollar AS. Selain itu, diumumkan juga business announcement senilai 1,3 miliar Dollar AS.
 
“(Bangsa) Afrika sudah menjadi teman baik bagi Indonesia sejak lama. Konferensi Asia Afrika (KAA) pada 1955 menjadi milestone penting bagi kerjasama ini, dilanjutkan (pada) 2005 dengan launching new KAA Partnership, dan kini komitmen nyata diwujudkan dengan penyelenggaraan Forum ini”, demikian ujar Wakil Presiden M Jusuf Kalla saat membuka IAF di Bali, 10 April 2018.
 
Forum Indonesia Afrika menjadi ajang eksplorasi potensi bisnis Indonesia ke negara-negara potensial di Afrika, yang selama ini belum digali dengan optimal. Sejumlah BUMN seperti PT Wijaya Karya, PT Dirgantara Indonesia, PT PAL, PT Timah, dan GMF AeroAsia serta Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia memulai rencana ekspansi bisnisnya di Benua Afrika dengan menandatangani sejumlah kesepakatan bisnis di Bali kali ini.
 
Pemerintah pun tak mau ketinggalan, dengan turut ambil langkah dengan komitmen untuk menjaga dan melindungi langkah ekspansi pebisnis tanah air ke Afrika. Saat ini opsi pembentukan Satuan Tugas Infrastruktur ke Afrika sedang dimatangkan untuk merumuskan strategi dan langkah-langkah dalam rangka mendukung penetrasi Indonesia ke pasar Afrika.
 
Deputi Menko Perekonomian Bidang Kerjasama Ekonomi Internasional Rizal Affandi Lukman di sela-sela Rapat Persiapan IAF menyatakan, “Skema dual track G to G (Government to Government) tetap diperlukan untuk melindungi hubungan B to B (Business to Business) yang sedang dikembangkan ke Afrika. Tugas pemerintah adalah memfasilitasi kerjasama ekonomi, perdagangan dan investasi, agar semua berjalan lancar dan berkembang dengan baik”, imbuhnya.
 
Deputi Rizal menambahkan, sejumlah tugas yang menanti antara lain dalam hal penyederhanaan regulasi terkait ekspor dan investasi. Pemerintah misalnya perlu mengkaji penerapan pajak agar tidak sampai membebani pengusaha, seperti tarif pajak tinggi atau berganda. Selain itu, pembentukan skema pembiayaan khusus seperti counter-purchase scheme dapat menjadi opsi pembiayaan nantinya.
 
IAF akan berlangsung selama 2 (dua) hari. Hari pertama diisi dengan diskusi-diskusi panel yang mengulas tentang perspektif dari sisi Pembuat Kebijakan, sementara keesokan harinya akan diselenggarakan Forum Bisnis dan diskusi-diskusi panel dengan narasumber para pelaku bisnis. 
 
Sejumlah narasumber yang hadir diantaranya Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman, Menteri Luar Negeri, Menteri Keuangan, Menteri Komunikasi dan Informatika, Menteri PPN/Kepala Bappenas, dan Kepala Badan Ekonomi Kreatif. Selain itu sejumlah Pimpinan BUMN dan Lembaga Keuangan turut hadir menjadi panelis.
 
Sementara itu dari Afrika pejabat yang hadir antara lain Menlu Kamerun, Menteri Perindustrian dan Perdagangan Mozambik, Menlu Maroko, Menteri Perkeretaapian Senegal, dan Komisioner Uni Afrika.
 Print Friendly
 
 Format PDF